Showing posts with label pramuka. Show all posts
Showing posts with label pramuka. Show all posts

Tuesday, September 27, 2011

Lintas Racana, Mahasiswa yang Cinta Pramuka

Atrasina Adlina Sejumlah anggota Lintas Racana
KOMPAS.com - Jangan dikira Pramuka hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa di SD ataupun SMP. Para mahasiswa pun masih ada yang gandrung mengikuti kegiatan ini. Tak percaya? Yang pasti kegiatan yang dijalani memang dengan konsep yang berbeda. Nama organisasi kepramukaan yang digagas mahasiswa ini bernama Racana yang berdiri pada tahun 2005.
Pada awalnya, Racana digagas oleh para anggota Pramuka dalam Saka Bhayangkara. Keprihatinan melihat pramuka tidak berkembang di tingkatan mahasiswa membuat wakil dari lima universitas berinisiatif untuk membentuk Lintas Racana.
Menurut Vera, salah satu pengagas Lintas Racana, mereka mempunyai cara unik untuk mempromosikan komunitas ini yaitu dengan informasi dari mulut ke mulut. Para anggota menghubungi anggota Pramuka di berbagai kampus, lalu mengajak mereka untuk membuat Racana di kampusnya.
"Hingga akhirnya dalam kurun waktu satu tahun berhasil mengumpulkan 17 universitas untuk ikut masuk dalam organisasi ini," jelasnya kepada Kompas.com, pekan lalu.
Vera mengatakan, dasar terbentuknya organisasi ini karena adanya keinginan membentuk komunitas dan saling berbagi. "Kami menyesuaikan kebutuhan anak muda yang butuh sebuah wadah untuk nongkrong. Tapi memiliki nilai tambah karena diajarkan beberapa keahlian," paparnya.
Menurut alumni Universitas Bung Karno ini, banyak keahlian yang diberikan kepada anggota melalu Kesatuan Karya (Saka).
"Di Pramuka ada beberapa Saka yang dikenal, misalnya saja Saka Bhayangkara yang bekerjasama dengan Polri, Saka Bahari yang berkerjasama dengan Angkatan Laut, Saka Dirgantara yang bekerjasama dengan Angkatan Udara, dan masih ada lima Saka lainnya," jelasnya. Dari Saka tersebut, para mahasiswa bisa mendapatkan keahlian yang lain, tidak hanya nongkrong atau sekedar hangout," tambahnya.
Hingga saat ini, anggota Lintas Racana sudah tercatat ratusan orang. Uniknya, mereka tidak terikat dengan kegiatan organisasi.
"Kami tidak ingin mengikat, karena walau bagaimana pun kuliah tetap nomor satu. Ketika ada anggota yang terbentur jadwalnya dengan kegiatan perkuliahan, maka kami akan meminta mereka mendahulukan kuliahnya terlebih dahulu," katanya.
Salah satu anggota yang tergabung dalam Lintas Racana adalah Anisa Irnawati dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sudah aktif sejak awal tahun 2011. Ia merasakan bahwa dengan mengikuti kegiatan seperti ini dapat menambah jaringan dan menyambung silaturahim.
"Anggota Lintas Racana sudah banyak. Bahkan ada anggota yang dari Medan dan Ambon, membuat kami menambah teman. Selain itu, kegiatan Lintas Racana sangat menyenangkan. tidak ada paksaan sehingga kami enjoy dalam menjalankan tugas," jelas mahasiswi jurusan Jurnalistik angkatan 2010 ini.
Tak hanya Anisa, tetapi ratusan mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama. Bahkan, menurut Vera, saat ini sudah banyak Pramuka di universitas yang ingin menjadi anggota Lintas Racana.
"Tapi, kami tak menutup kemungkinan untuk merekrut orang-orang yang ingin masuk di Lintas Racana tanpa melalui organisasi Pramuka di universitasnya. Jadi, kami siap menerima individu yang ingin belajar lebih dalam tentang Pramuka," tandasnya.
read more...

5 Elang dalam Berbagai Simbol Negara

1. Indonesia
Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.

Indonesia (Sumber: indahnesia.com)

Dalam banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai “Tuan segala makhluk yang dapat terbang” dan “Raja agung para burung”.

2. Jerman
Lambang negara Jerman, menggambarkan elang hitam dengan paruh dan cakar berwarna merah, di atas latar berbentuk perisai berwarna kuning emas. Warna-warna yang digunakan dalam lambang ini sama dengan warna Bendera Jerman (hitam, merah, dan kuning emas). Bersama dengan Lambang Austria yang memiliki sejarah yang sama, lambang ini merupakan salah satu lambang negara tertua di Eropa yang telah ada sejak abad pertengahan.

Jerman (Sumber: wikia.com)

Sejak zaman Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Byzantium lambang elang adalah makhluk yang paling dihormati dan melambangkan sifat tak terkalahkan. Kemudian, lambang kekaisarannya berupa(cf. adler), disebut di Jerman dengan nama Reichsadler, digunakan di Jerman mungkin sejak zaman Charlemagne (742–814). Sekitar tahun 1200 lambang elang hitam dengan latar emas digunakan sebagai lambang kekaisaran Jerman. Selain pada lambang negara, lambang resmi elang hitam Jerman juga dapat diitemui pada lambang dan bendera institusi federal Jerman, bendera Presiden Jerman, dan lencana resmi kenegaraan.

3. Amerika Serikat
Lambang negara Amerika Serikat, menggambarkan perisai menampilkan dua ciri utama Bendera Amerika Serikat, yaitu bagian biru dan garis merah-putih. Akan tetapi tidak ada bintang pada latar biru. Perbedaan lainnya pada bagian garis terluar adalah warna putih, bukan warna merah.

Amerika Serikat (sumber: hattrick.org)

Perisai ini ditopang oleh burung Elang Botak dengan sayap membuka dan terentang sebagaimana lazimnya lambang negara bergambar burung. Dari perspektif elang, burung ini menggenggam himpunan 13 batang anak panah pada cakar kirinya, (melambangkan 13 koloni awal pembentuk Amerika serikat), dan sebuah ranting zaitun di cakar kanannya, keduanya melambangkan bahwa Amerika adalah negara yang cinta damai, tetapi selalu siap sedia untuk berperang. Meskipun tidak ditetapkan secara resmi oleh Undang-undang, ranting zaitun biasanya menampilkan 13 daun dan 13 buah zaitun yang juga melambangkan 13 negara bagian awal tersebut. Elang ini menoleh pada ranting zaitun yang melambangkan Amerika lebih memilih jalan perdamaian. Pada paruhnya, elang ini mematuk pita yang bertuliskan motto berbahasa Latin E pluribus unum (“Dari banyak, Satu”). Motto ini memiliki semangat dan makna yang mirip dengan semboyan kebangsaan Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika. Di atas kepalanya muncul lingkaran lambang kejayaan dengan 13 bintang di atas latar biru membentuk bintang bersudut enam.

4. Mesir
Lambang negara Mesir adalah elang emas dengan kepala menghadap kanan (sudut pandang elang). Lambang ini disebut “Elang Salahuddin” dengan cakar tengah menggenggam pita bertuliskan nama resmi negara Mesir. Elang ini mengenakan perisai di dadanya berwarna merah, putih, dan hitam, warna Bendera Mesir, tetapi dalam susunan vertikal, sedangkan dalam bendera Mesir warna disusun secara horizontal. Jika lembang elang ini muncul di atas bendera Mesir, maka warnanya adalah seluruhnya emas dan putih. Ketika Mesir bersatu dengan Suriah dalam Republik Arab Bersatu (1958-1961), dan sepuluh tahun sesudahnya, Mesir mempertahankan nama resmi dan dua bintang hijau bendera persatuan Arab muncul di bagian putih perisai. Pada kurun 1972-1984 elang Salahuddin digantikan dengan Elang Emas Quraish, sebagai simbol Federasi Republik Arab.
Mesir (Sumber: ngw.nl)

Elang sebagai simbol Salahuddin hingga kini masih diperdebatkan oleh arkeolog. Simbol elang ditemukan di tembok barat benteng kota Kairo yang dibangun oleh Salahuddin, sehingga banyak yang menganggapnya sebagai simbol Salahuddin. Lambang Elang Salahuddin digunakan sebagai simbol gerakan nasionalisme Arab dan muncul dalam Lambang Irak, Lambang Palestina, dan Lambang Yaman, dan dulu pernah digunakan oleh Libya. Meskipun demikian elang sebagai simbol sebenarnya bukan hal baru dalam kebudayaan Mesir bahkan sejak masa Mesir Kuno. Dewa Horus adalah dewa berkepala elang yang melambangkan kekuatan dan matahari. Lambang kepala Horus juga digunakan sebagai logo maskapai penerbangan Mesir EgyptAir.

5. Meksiko
Lambang negara Meksiko adalah simbol penting bagi politik dan budaya Meksiko sejak berabad-abad lamanya. Lambang ini menggambarkan Elang emas hinggap di atas kaktus tengah memakan ular. Bagi rakyat Tenochtitlan lambang ini memiliki makna keagamaan yang dalam, tetapi bagi warga Eropa lambang ini bermakna kemenangan kebenaran atas kejahatan. Lambang ini juga digunakan sebagai lencana Negara-negara bagian Meksiko bersatu, versi yang telah dimodifikasi menjadi lambang pemerintah federal.

Meksiko (Sumber: hummingbirdminerals.com)

Lambang ini mengabadikan kisah berdirinya kota Mexico City, yang saat itu bernama Tenochtitlan. Legenda ini berkisah tentang bangsa Meksika atau juga dikenal dengan nama bangsa Aztek, yang melihat adegan elang dan ular di atas kaktus, kejadian ini dijadikan pertanda dari dewa bahwa di tempat inilah lokasi terbaik berdirinya ibu kota baru mereka. Legenda Tenochtitlan tercantum dalam naskah asli Kodeks Mexica, lukisan, dan kodeks pasca-Cortes yang menghilangkan bagian ularnya. (**)
read more...

PERATURAN BARIS BERBARIS ( PBB )

1. Pengertian

Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI .

Apa itu Baris Berbaris ?

Baris Berbaris

1. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
2. Maksud dan tujuan
1) Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
2) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4) Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.

Aba-aba

1. Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
2. Macam aba-aba
Ada tiga macam aba-aba yaitu :
1) Aba-aba petunjuk
2) Aba-aba peringatan
3) Aba-aba pelaksanaan

2. Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar

1. Sikap sempurna. Aba-aba : Siap - GERAK
2. Istirahat. Aba-aba: Istirahat ditempat – GERAK
3. Lencang kanan/kiri : (hanya dalam bentuk bersaf). Aba-aba : Lencang kanan/kiri - GERAK
4. Setengah lencang kanan/kiri. Aba-aba : Setengah lencang kanan/kiri - GERAK
5. Lencang depan (hanya dalam bentuk berbanjar). Aba-aba : Lencang depan - GERAK
6. Cara berhitung. Aba-aba : Hitung – MULAI
7. Hadap kanan/kiri. Aba-aba : Hadap kanan/kiri – GERAK
8. Hadap serong kanan/kiri. Aba-aba : Hadap serong kanan/kiri – GERAK
9. Balik kanan. Aba-aba : Balik kanan/kiri – GERAK
10. Cara berkumpul. Aba-aba : 3 bersaf/ 3 berbanjar kumpul - MULAI
11. Cara latihan memberi hormat. Aba-aba : Hormat - GERAK
12. Bubar. Aba-aba : Bubar - JALAN
13. Jalan di tempat. Aba-aba: Jalan ditempat - GERAK
14. Membuka/menutup barisan. Aba-aba : Buka barisan – JALAN/Tutup barisan – JALAN
15. Maju – jalan. Dari sikap sempurna. Aba-aba : Maju – JALAN
16. Langkah Biasa. Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
17. Langkah Tegap. Aba-aba : Langkah tegap – JALAN
18. Langkah perlahan (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran). Aba-aba : Langkah perlahan maju – JALAN
19. Langkah ke samping. Aba-aba : ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN
20. Langkah ke belakang. Aba-aba : ……..Langkah ke belakang – JALAN
21. Langkah ke depan. Aba-aba : …….Langkah ke depan – JALAN
22. Langkah di waktu lari. Dari sikap sempurna aba-aba : Lari maju – JALAN, dari langkah biasa aba-aba : Lari – JALAN
23. Langkah merdeka. Aba-aba : Langkah merdeka – JALAN
24. Ganti langkah. Aba-aba : Ganti langkah – JALAN
1. Pengertian

Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI .

Apa itu Baris Berbaris ?

Baris Berbaris

1. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
2. Maksud dan tujuan
1) Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
2) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4) Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.

Aba-aba

1. Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
2. Macam aba-aba
Ada tiga macam aba-aba yaitu :
1) Aba-aba petunjuk
2) Aba-aba peringatan
3) Aba-aba pelaksanaan

2. Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar

1. Sikap sempurna. Aba-aba : Siap - GERAK
2. Istirahat. Aba-aba: Istirahat ditempat – GERAK
3. Lencang kanan/kiri : (hanya dalam bentuk bersaf). Aba-aba : Lencang kanan/kiri - GERAK
4. Setengah lencang kanan/kiri. Aba-aba : Setengah lencang kanan/kiri - GERAK
5. Lencang depan (hanya dalam bentuk berbanjar). Aba-aba : Lencang depan - GERAK
6. Cara berhitung. Aba-aba : Hitung – MULAI
7. Hadap kanan/kiri. Aba-aba : Hadap kanan/kiri – GERAK
8. Hadap serong kanan/kiri. Aba-aba : Hadap serong kanan/kiri – GERAK
9. Balik kanan. Aba-aba : Balik kanan/kiri – GERAK
10. Cara berkumpul. Aba-aba : 3 bersaf/ 3 berbanjar kumpul - MULAI
11. Cara latihan memberi hormat. Aba-aba : Hormat - GERAK
12. Bubar. Aba-aba : Bubar - JALAN
13. Jalan di tempat. Aba-aba: Jalan ditempat - GERAK
14. Membuka/menutup barisan. Aba-aba : Buka barisan – JALAN/Tutup barisan – JALAN
15. Maju – jalan. Dari sikap sempurna. Aba-aba : Maju – JALAN
16. Langkah Biasa. Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
17. Langkah Tegap. Aba-aba : Langkah tegap – JALAN
18. Langkah perlahan (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran). Aba-aba : Langkah perlahan maju – JALAN
19. Langkah ke samping. Aba-aba : ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN
20. Langkah ke belakang. Aba-aba : ……..Langkah ke belakang – JALAN
21. Langkah ke depan. Aba-aba : …….Langkah ke depan – JALAN
22. Langkah di waktu lari. Dari sikap sempurna aba-aba : Lari maju – JALAN, dari langkah biasa aba-aba : Lari – JALAN
23. Langkah merdeka. Aba-aba : Langkah merdeka – JALAN
24. Ganti langkah. Aba-aba : Ganti langkah – JALAN
read more...

DASAR PBB

A. PERATURAN BARIS BARIS (P.B.B)
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yaknI baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI.

baris berbaris

Apa itu Baris Berbaris ? 1. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu wujud latihan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
2. Maksud dan tujuan
1. Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggungjawab.
2. Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3. Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4. Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5. Yang dimaksud rasa tanggungjawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
read more...

Asal Usul Gerakan Pramuka di Indonesia

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960. Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu. Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8). Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu. Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka. [sunting] Kelahiran Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu : 1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA 2. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA. 3. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA. 4. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA. [sunting] Gerakan Pramuka Diperkenalkan Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian
read more...

Sejarah Kepramukaan

SEJARAH KEPRAMUKAAN INDONESIA
A. Pendahuluan
         Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.
B. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka
         Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).
         Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).
         Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan. Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.
         Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA. Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.
         Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)
         Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia). Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.
         Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.
C. Perkembangan Gerakan Pramuka
Ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.
Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80 % penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75 % adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa. Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat.
Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari. Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.    
SEJARAH KEPRAMUKAAN DUNIA
 A. Pendahuluan
Kalau kita mempelajari sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell.
Hal ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan.
B. Riwayat hidup Baden Powell
Lahir tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil.
Pengalaman Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik diantaranya :
a.             Karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
b.            Dari kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
c.             Sifat Baden Powell yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
d.            Pengalaman di India sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
e.             Terkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
f.              Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
g.             Pengalaman ini ditulis dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik.
h.             William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu.
Kemudian dipanggil 21 pemuda dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
 C. Sejarah Kepramukaan Sedunia
Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout.
Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri beliau.
Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.
Tahun 1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.
Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
                Tahun 1924 Jambore II            di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
                Tahun 1929 Jambore III          di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
                Tahun 1933 Jambore IV           di Godollo, Budapest, Hongaria
                Tahun 1937 Jambore V            di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
                Tahun 1947 Jambore VI           di Moisson, Perancis
                Tahun 1951 Jambore VII         di Salz Kamergut, Austria
                Tahun 1955 Jambore VIII        di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
                Tahun 1959 Jambore IX          di Makiling, Philipina
                Tahun 1963 Jambore X            di Marathon, Yunani
                Tahun 1967 Jambore XI          di Idaho, Amerika Serikat
                Tahun 1971 Jambore XII         di Asagiri, Jepang
                Tahun 1975 Jambore XIII        di Lillehammer, Norwegia
                Tahun 1979 Jambore XIV        di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
                Tahun 1983 Jambore XV         di Kananaskis, Alberta, Kanada
                Tahun 1987 Jambore XVI        di Cataract Scout Park, Australia
                Tahun 1991 Jambore XVII       di Korea Selatan
                Tahun 1995 Jambore XVIII     di Belanda
                Tahun 1999 Jambore XIX        di Chili, Amerika Selatan
                Tahun 2003 Jambore XX         di Thailand

            Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
            Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen.
Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.
read more...

Tanda Kecakapan Umum

TKU (Tanda Kecakapan Umum) adalah bagian dari sistem tanda kecakapan dalam Gerakan Pramuka di samping TKK (Tanda Kecakapan Khusus).
Tanda Kecakapan Umum diberikan setelah seorang anggota Gerakan Pramuka menyelesaikan Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) dalam tingkatannya masing-masing.
Tanda Kecakapan Umum hanya berlaku bagi anggota Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. TKU tidak berlaku bagi sepertiPembina, Andalan dan anggota dewasa lainnya.

Bentuk, tingkatan dan pemakaian

Pramuka Siaga

  • Berbentuk Jajar Genjang miring berwarna dasar hijau dengan gambar “bunga kelapa” berwarna putih.
  • TKU Pramuka Siaga terdiri atas: TKU Siaga mula (satu susun), TKU Siaga bantu (dua susun) dan TKU Siaga tata (tiga susun).
  • TKU Pramuka Siaga dikenakan di lengan baju sebelah kiri.

Pramuka Penggalang

Pramuka Penegak

Pramuka Pandega

PENGGALANG
Penggalang adalah sebuah tingkatan dalam pramuka setelah siaga. Biasanya anggota pramuka tingkat penggalang berusia dari 10-15 tahun.
Tingkatan dalam Penggalang
Penggalang memiliki beberapa tingkatan dalam golongannya, yaitu :
  1. Ramu
  2. Rakit
  3. Terap
  4. Penggalang Garuda
Tingkatan Penggalang juga memiliki Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kenaikan tingkat atau pendapatkan Tanda Kecapakan Khusus TKK
Sistem Kelompok Satuan Terpisah
Satuan terkecil dalam Penggalang disebut regu. Setiap regu diketuai oleh seorang Pimpinan Regu (PINRU)yang bertanggung jawab penuh atas regunya tersebut. Dalam Gugus depan Penggalang yang dapat berisi lebih dari satu regu putra/putri, terdapat peserta didik yang bertugas mengkoordinir regu-regu tersebut, peserta didik itu disebut Pratama (untuk putra) atau Pratami (untuk putri).
Regu dalam penggalang mempunyai nama-nama untuk mengidentifikasi regu tersebut. Nama Regu Putra diambil dari nama binatang, misalnya harimau, kobra, elang, kalajengking, dan sebagainya. Sedangkan nama regu putri diambil dari nama bunga, semisal anggrek, anyelir, mawar, melati.
Trisatya
Janji Pramuka Penggalang (Trisatya) berbeda dengan Siaga dan Penegak/Pandega. Berikut isi Trisatya Penggalang:
TRISATYA Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh sungguh:
  1. Menjalankan kewajibanku kepada Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Mengamalkan Pancasila
  2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
  3. Menepati Dasa Dharma
Dasa Dharma
adalah sepuluh janji seorang pramuka
DASA DHARMA
  1. Taqwa kepada tuhan yang maha esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang kepada manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin,terampil,dan gembira
  7. Hemat cermat dan bersahaja
  8. Disiplin,berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan

WARNA DAN ARTI KIASAN TKU


a. Kelopak bunga kelapa yang mulai merekah, menggambarkan pertumbuhan tanaman, mengibaratkan Pramuka Siaga yang sedang tumbuh menjadi tunas calon bangsa.
b. kelopak bunga diletakkan miring, menggambarkan bunga kelapa yang selalu memperlihatkan sudut miring terhadap batang pohonnya, mengibaratkan keterikatan Pramuka Siaga dengan keluarga dan orang tuanya.
c. Mayang terurai bertangkai tiga buah, menggambarkan bunga yang sudah mulai berkembang, indah dan menarik, mengibaratkan Pramuka Penggalang yang riang, lincah dan bersikap menarik, sebagai calon tunas bangsa yang sedang berkembang, menggladi dirinya dengan jiwa Pramuka yang berlandaskan pada Trisatya.
d. Mayang terurai yang mekar ke samping, mengibaratkan makin terbukanya pandangan Pramuka Penggalang, dan menerima pengaruh yang baik dari lingkungan sekitarnya.
e. Bintang bersudut lima mengibaratkan Ketuhanan Yang Mahaesa dan Pancasila.
f. Dua buah tunas kelapa yang berpasangan mengibaratkan keselarasan dan kesatuan gerak Pramuka Penegak dan Pandega, putera dan puteri, yang sedang membina dirinya sebagai mahluk pribadi, mahluk sosial dan mahluk Tuhan, menuju cita-cita bangsa yang tinggi, setinggi bintang di langit, untuk kemudian mengabdikan dirinya ke dalam dank e luar organisasi Gerakan Pramuka.
g. Tanda Penegak Bantara, Penegak Laksana dan Pandega diletakkan di atas pundak kiri dan kanan, mengibaratkan pemberian tanggung jawab yang tidak ringan yang dipikulnya sebagai anggota Gerakan Pramuka dan kader pembangunan bangsa dan negara.
Arti warna:
1) warna hijau melambangkan kesegaran hidup sesuatu yang sedang tumbuh.
2) warna merah melambangkan kemeriahan hidup sesuatu yang sedang berkembang.
3) warna kuning dan kuning emas melambangkan kecerahan hidup yang menuju ke keagungan dan keluhuran budi.
4) warna coklat melambangkan kematangan jasmani dan rohani, kedewasaan dan keteguhan.
read more...

BENTUK BARISAN DALAM UPACARA GERAKAN PRAMUKA


read more...

Robert Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell

From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
Robert Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell
22 February 1857 – 8 January 1941 (aged 83)

Robert Baden-Powell
Founder of Scouting
Nickname B-P
Place of birth Paddington, London, England
Place of death Nyeri, Kenya
Service/branch British Army
Years of service 1876–1910
Rank Lieutenant-General
Commands held Chief of Staff, Second Matabele War (1896–1897)
5th Dragoon Guards in India (1897)
Inspector General of Cavalry, England (1903)
Battles/wars Anglo-Ashanti Wars,
Second Matabele War,
Siege of Mafeking,
Second Boer War
Awards Ashanti Star (1895),[1]
Matabele Campaign, British South Africa Company Medal (1896),[2]
Queen's South Africa Medal (1899),[3]
King's South Africa Medal ( 1902),[4]
Boy Scouts Silver Wolf
Boy Scouts Silver Buffalo Award (1926),[5]
World Scout Committee Bronze Wolf (1935),[6]
Großes Dankabzeichen des ÖPB (1927)
Großes Ehrenzeichen der Republik am Bande (1931)
Goldene Gemse (1931)
Grand-Cross in the Order of Orange-Nassau (1932),
Order of Merit (1937),
Wateler Peace Prize (1937)
Order of St Michael and St George,
Royal Victorian Order,
Order of the Bath
Other work Founder of the international Scouting Movement; writer; artist
Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell, OM, GCMG, GCVO, KCB (play /ˈbeɪdən ˈpoʊ.əl/; 22 February 1857 – 8 January 1941), also known as B-P or Lord Baden-Powell, was a lieutenant-general in the British Army, writer, and founder of the Scout Movement.
After having been educated at Charterhouse School, Baden-Powell served in the British Army from 1876 until 1910 in India and Africa. In 1899, during the Second Boer War in South Africa, Baden-Powell successfully defended the town in the Siege of Mafeking. Several of his military books, written for military reconnaissance and scout training in his African years, were also read by boys. Based on those earlier books, he wrote Scouting for Boys, published in 1908 by Pearson, for youth readership. During writing, he tested his ideas through a camping trip on Brownsea Island with the local Boys' Brigade and sons of his friends that began on 1 August 1907, which is now seen as the beginning of Scouting.
After his marriage to Olave St Clair Soames, Baden-Powell, his sister Agnes Baden-Powell and notably his wife actively gave guidance to the Scouting Movement and the Girl Guides Movement. Baden-Powell lived his last years in Nyeri, Kenya, where he died and was buried in 1941.

Contents

[edit] Early life

Baden-Powell was born as Robert Stephenson Smyth Powell, or more familiarly as Stephe Powell, at 6 Stanhope Street (now 11 Stanhope Terrace), Paddington in London, on 22 February 1857,[7] He was named for his godfather, Robert Stephenson, the railway and civil engineer,[8] his third name was his mother's maiden name. His father Reverend Baden Powell, a Savilian Professor of Geometry at Oxford University, already had four teenage children from the second of his two previous marriages. On 10 March 1846 at St Luke's Church, Chelsea, Reverend Powell married Henrietta Grace Smyth (3 September 1824 – 13 October 1914), eldest daughter of Admiral William Henry Smyth and 28 years his junior. Quickly they had Warington (early 1847), George (late 1847), Augustus (1849) and Francis (1850). After three further children who died when very young, they had Stephe, Agnes (1858) and Baden (1860). The three youngest children and the often ill Augustus were close friends. Reverend Powell died when Stephe was three, and as tribute to his father and to set her own children apart from their half-siblings and cousins, the mother changed the family name to Baden-Powell. Subsequently, Stephe was raised by his mother, a strong woman who was determined that her children would succeed. Baden-Powell would say of her in 1933 "The whole secret of my getting on, lay with my mother."[7][9][10]
After attending Rose Hill School, Tunbridge Wells, during which his favourite brother Augustus died, Stephe Baden-Powell was awarded a scholarship to Charterhouse, a prestigious public school. His first introduction to Scouting skills was through stalking and cooking game while avoiding teachers in the nearby woods, which were strictly out-of-bounds. He also played the piano and violin, was an ambidextrous artist, and enjoyed acting. Holidays were spent on yachting or canoeing expeditions with his brothers.[7]

[edit] Military career

In 1876, R.S.S. Baden-Powell, as he styled himself then, joined the 13th Hussars in India with the rank of lieutenant. He enhanced and honed his military scouting skills amidst the Zulu in the early 1880s in the Natal province of South Africa, where his regiment had been posted, and where he was Mentioned in Despatches. During one of his travels, he came across a large string of wooden beads, worn by the Zulu king Dinizulu, which was later incorporated into the Wood Badge training programme he started after he founded the Scouting Movement. Baden-Powell's skills impressed his superiors and he was Brevetted Major as Military Secretary and senior Aide-de-camp of the Commander-in-Chief and Governor of Malta, his uncle General Sir Henry Augustus Smyth.[7] He was posted in Malta for three years, also working as intelligence officer for the Mediterranean for the Director of Military Intelligence.[7] He frequently travelled disguised as a butterfly collector, incorporating plans of military installations into his drawings of butterfly wings.[11]
Baden-Powell returned to Africa in 1896 to aid the British South Africa Company colonials under siege in Bulawayo during the Second Matabele War.[12] This was a formative experience for him not only because he had the time of his life commanding reconnaissance missions into enemy territory in Matobo Hills, but because many of his later Boy Scout ideas took hold here.[13] It was during this campaign that he first met and befriended the American scout Frederick Russell Burnham, who introduced Baden-Powell to the American Old West and woodcraft (i.e., scoutcraft), and here that he wore his signature Stetson campaign hat and kerchief for the first time.[7] After Rhodesia, Baden-Powell took part in a successful British invasion of Ashanti, West Africa in the Fourth Ashanti War, and at the age of 40 was promoted to lead the 5th Dragoon Guards in 1897 in India.[14] A few years later he wrote a small manual, entitled Aids to Scouting, a summary of lectures he had given on the subject of military scouting, to help train recruits. Using this and other methods he was able to train them to think independently, use their initiative, and survive in the wilderness.
Baden-Powell was accused of illegally executing a prisoner of war, Matabele chief Uwini, in 1896, who had been promised his life would be spared if he surrendered. Uwini was shot by firing squad under Baden-Powell's instructions. Baden-Powell was cleared by an inquiry, and later claimed he was "released without a stain on my character".
B-P returned to South Africa prior to the Second Boer War and was engaged in further military actions against the Zulus. By this time, he had been promoted to be the youngest colonel in the British Army. He was responsible for the organisation of a force of Legion of Frontiersmen to assist the regular army. While arranging this, he was trapped in the Siege of Mafeking, and surrounded by a Boer army, at times in excess of 8,000 men. Although wholly outnumbered, the garrison withstood the siege for 217 days. Much of this is attributable to cunning military deceptions instituted at Baden-Powell's behest as commander of the garrison. Fake minefields were planted and his soldiers were ordered to simulate avoiding non-existent barbed wire while moving between trenches.[15] Baden-Powell did most of the reconnaissance work himself.[16] In one instance noting that the Boers had not removed the rail line, Baden-Powell loaded an armoured locomotive with sharpshooters and successfully sent it down the rails into the heart of the Boer encampment and back again in a strategic attempt to decapitate the Boer leadership.

Baden-Powell on patriotic postcard in 1900
Contrary views of Baden-Powell's actions during the Siege of Mafeking pointed out that his success in resisting the Boers was secured at the expense of the lives of the native African soldiers and civilians, including members of his own African garrison. Pakenham stated that Baden-Powell drastically reduced the rations to the natives' garrison.[17] However, in 2001, after subsequent research, Pakenham decidedly retreated from this position.[7][18]
During the siege, a cadet corps, consisting of white boys below fighting age, was used to stand guard, carry messages, assist in hospitals and so on, freeing the men for military service. Although Baden-Powell did not form this cadet corps himself, and there is no evidence that he took much notice of them during the Siege, he was sufficiently impressed with both their courage and the equanimity with which they performed their tasks to use them later as an object lesson in the first chapter of Scouting for Boys. The siege was lifted in the Relief of Mafeking on 16 May 1900. Promoted to major-general, Baden-Powell became a national hero.[19] After organising the South African Constabulary, the national police force, he returned to England to take up a post as Inspector General of Cavalry in 1903. In 1907 he was appointed to command a division in the newly-formed Territorial Force.[20]
In 1910 Lieutenant-General Baden-Powell decided to retire from the Army reputedly on the advice of King Edward VII, who suggested that he could better serve his country by promoting Scouting.[21][22]
On the outbreak of World War I in 1914, Baden-Powell put himself at the disposal of the War Office. No command, however, was given him, for, as Lord Kitchener said: "he could lay his hand on several competent divisional generals but could find no one who could carry on the invaluable work of the Boy Scouts."[23] It was widely rumoured that Baden-Powell was engaged in spying, and intelligence officers took great care to inculcate the myth.[24]

[edit] Scouting movement

Pronunciation of Baden-Powell
/ˈbeɪdən ˈpoʊ.əl/
Man, Nation, Maiden
Please call it Baden.
Further, for Powell
Rhyme it with Noel
—Verse by B-P
On his return from Africa in 1903, Baden-Powell found that his military training manual, Aids to Scouting, had become a best-seller, and was being used by teachers and youth organisations.[25] Following his involvement in the Boys' Brigade as Brigade Secretary and Officer in charge of its scouting section, with encouragement from his friend, William Alexander Smith, Baden-Powell decided to re-write Aids to Scouting to suit a youth readership. In August 1907 he held a camp on Brownsea Island for twenty-two boys from local Boys Brigade companies and sons of friends of Baden-Powell's from public schools Eton and Harrow to test out the applicability of his ideas. Baden-Powell was also influenced by Ernest Thompson Seton, who founded the Woodcraft Indians. Seton gave Baden-Powell a copy of his book The Birch Bark Roll of the Woodcraft Indians and they met in 1906.[26][27] The first book on the Scout Movement, Baden-Powell's Scouting for Boys was published in six instalments in 1908, and has sold approximately 150 million copies as the fourth bestselling book of the 20th century.[28]

Reviewing the Boy Scouts of Washington D.C. from the portico of the White House: Baden-Powell, President Taft, British ambassador Bryce (1912)
Boys and girls spontaneously formed Scout troops and the Scouting Movement had inadvertently started, first as a national, and soon an international obsession. The Scouting Movement was to grow up in friendly parallel relations with the Boys' Brigade. A rally for all Scouts was held at Crystal Palace in London in 1909, at which Baden-Powell discovered the first Girl Scouts. The Girl Guide Movement was subsequently founded in 1910 under the auspices of Baden-Powell's sister, Agnes Baden-Powell. Baden-Powell's friend, Juliette Gordon Low, was encouraged by him to bring the Movement to America, where she founded the Girl Scouts of the USA.
In 1920, the 1st World Scout Jamboree took place in Olympia, and Baden-Powell was acclaimed Chief Scout of the World. Baden-Powell was created a Baronet in the 1921 New Year Honours and Baron Baden-Powell, of Gilwell, in the County of Essex, on 17 September 1929, Gilwell Park being the International Scout Leader training centre.[29] After receiving this honour, Baden-Powell mostly styled himself "Baden-Powell of Gilwell".

Three Scouting pioneers: Robert Baden-Powell (seated), Ernest T. Seton (left), and Dan Beard (right)
In 1929, during the 3rd World Scout Jamboree, he received as a present a new 20 horse power Rolls-Royce car (chassis number GVO-40, registration OU 2938) and an Eccles Caravan.[30] This combination well served the Baden-Powells in their further travels around Europe. The caravan was nicknamed Eccles and is now on display at Gilwell Park. The car, nicknamed Jam Roll, was sold after his death by Olave Baden-Powell in 1945. Jam Roll and Eccles were reunited at Gilwell for the 21st World Scout Jamboree in 2007. Recently it has been purchased on behalf of Scouting and is owned by a charity, B-P Jam Roll Ltd. Funds are being raised to repay the loan that was used to purchase the car.[30][31] Baden-Powell also had a positive impact on improvements in youth education.[32] Under his dedicated command the world Scouting Movement grew. By 1922 there were more than a million Scouts in 32 countries; by 1939 the number of Scouts was in excess of 3.3 million.[33]
At the 5th World Scout Jamboree in 1937, Baden-Powell gave his farewell to Scouting, and retired from public Scouting life. 22 February, the joint birthday of Robert and Olave Baden-Powell, continues to be marked as Founder's Day by Scouts and Thinking Day by Guides to remember and celebrate the work of the Chief Scout and Chief Guide of the World.
In his final letter to the Scouts, Baden-Powell wrote:
...I have had a most happy life and I want each one of you to have a happy life too. I believe that God put us in this jolly world to be happy and enjoy life. Happiness does not come from being rich, nor merely being successful in your career, nor by self-indulgence. One step towards happiness is to make yourself healthy and strong while you are a boy, so that you can be useful and so you can enjoy life when you are a man. Nature study will show you how full of beautiful and wonderful things God has made the world for you to enjoy. Be contented with what you have got and make the best of it. Look on the bright side of things instead of the gloomy one. But the real way to get happiness is by giving out happiness to other people. Try and leave this world a little better than you found it and when your turn comes to die, you can die happy in feeling that at any rate you have not wasted your time but have done your best. 'Be Prepared' in this way, to live happy and to die happy — stick to your Scout Promise always — even after you have ceased to be a boy — and God help you to do it.[34]

[edit] Personal life

In January 1912, Baden-Powell met Olave St Clair Soames, on the ocean liner, Arcadian, heading for New York to start one of his Scouting World Tours.[35][36] She was 23, while he was 55; they shared the same birthday, 22 February. They became engaged in September of the same year, causing a media sensation due to Baden-Powell's fame. To avoid press intrusion, they married in secret on 31 October 1912, at St Peter's Church in Parkstone.[37] The Scouts of England each donated a penny to buy Baden-Powell a wedding gift, a car (note that this is not the Rolls-Royce they were presented with in 1929). There is a monument to their marriage inside St Mary's Church, Brownsea Island.
Baden-Powell and Olave lived in Pax Hill near Bentley, Hampshire from about 1919 until 1939.[38] The Bentley house was a gift of her father.[39] Directly after he had married, Baden-Powell began to suffer persistent headaches, which were considered by his doctor to be of psychosomatic origin and treated with dream analysis.[7] The headaches disappeared upon his moving into a makeshift bedroom set up on his balcony.

Baden-Powell with wife and three children, 1917
The Baden-Powells had three children, one son and two daughters, who all acquired the courtesy title of "The Honourable" in 1929 as children of a baron. The son succeeded his father in 1941 to the Baden-Powell barony and the title of Baron Baden-Powell.[29]
  • Arthur Robert Peter (Peter), later 2nd Baron Baden-Powell (1913–1962). He married Carine Crause-Boardman in 1936, and had three children: Robert Crause, later 3rd Baron Baden-Powell; David Michael (Michael), current heir to the titles, and Wendy.
  • Heather (1915–1986), who married John King and had two children: Michael, who died in the sinking of the SS Heraklion, and Timothy,
  • Betty (1917–2004), who married Gervase Charles Robert Clay in 1936 and had three sons and one daughter: Robin, Crispin, Gillian and Nigel.
In 1939, he and his wife moved to a cottage he had commissioned in Nyeri, Kenya, near Mount Kenya, where he had previously been to recuperate. The small one-room house, which he named Paxtu, was located on the grounds of the Outspan Hotel, owned by Eric Sherbrooke Walker, Baden-Powell's first private secretary and one of the first Scout inspectors.[7] Walker also owned the Treetops Hotel, approx 17 km out in the Aberdare Mountains, often visited by Baden-Powell and people of the Happy Valley set. The Paxtu cottage is integrated into the Outspan Hotel buildings and serves as a small Scouting museum.
Baden-Powell died on 8 January 1941 and is buried in Nyeri, in St. Peter's Cemetery [40] His gravestone bears a circle with a dot in the centre I have gone home, which is the trail sign for "Going home", or "I have gone home":[41] When his wife Olave died, her ashes were sent to Kenya and interred beside her husband. Kenya has declared Baden-Powell's grave a national monument.[42]

[edit] Personal beliefs


A World War I propaganda poster drawn by Baden-Powell
Jeal argues that Baden-Powell's distrust of communism led to his implicit support, through naïveté, of fascism. In 1939 Baden-Powell noted in his diary: "Lay up all day. Read Mein Kampf. A wonderful book, with good ideas on education, health, propaganda, organization etc.-and ideals which Hitler does not practise himself."[7]:550
Baden-Powell admired Benito Mussolini early in the Italian fascist leader's career and some early Scouting badges had a swastika symbol on them.[43] According to Rosenthal, Baden-Powell used the swastika because he was a Nazi sympathizer. Jeal, however, argues that Baden-Powell was naïve of the symbol's growing association with fascism and maintained that his use of the symbol related to its earlier, original meaning of "good luck" in Sanskrit, for which purpose the symbol had been used for centuries prior to the rise of fascism. In conflict with the idea that Powell was a Nazi supporter is the fact that Baden-Powell was a target of the Nazi regime in the Black Book, which listed individuals who were to be arrested during and after an invasion of Great Britain as part of Operation Sealion. Scouting was regarded as a dangerous spy organization by the Nazis.[44]

[edit] Artist and writer

Baden-Powell made paintings and drawings almost every day of his life. Most have a humorous or informative character.[7] He published books and other texts during his years of military service both to finance his life and to educate his men.[7]
Baden-Powell was regarded as an excellent storyteller. During his whole life he told 'ripping yarns' to audiences.[7] After having published Scouting for Boys, Baden-Powell kept on writing more handbooks and educative materials for all Scouts, as well as directives for Scout Leaders. In his later years, he also wrote about the Scout Movement and his ideas for its future. He spent the last decade of his life in Africa, and many of his later books had African themes. Currently, many pages of his field diary, complete with drawings, are on display at the National Scouting Museum in Irving, Texas.

[edit] Sexuality

Early discussion of Baden-Powell's sexuality focused on his relationship with his close friend Kenneth McLaren.[45]:217–218[46]:48 Tim Jeal's later biography Baden-Powell discusses the relationship and concludes that there is no conclusive evidence that this friendship was physical[7]:82. Jeal then examines Baden-Powell's views on women, his appreciation of the male form, his military relationships and his marriage, indicating that Baden-Powell could be a repressed homosexual.[7]:103 Jeal's conclusion is shared by some biographers and disputed by others, but not yet examined in any detail by scholars.[47]:6

[edit] Works









Military books
  • 1884: Reconnaissance and Scouting
  • 1885: Cavalry Instruction
  • 1889: Pigsticking or Hoghunting
  • 1896: The Downfall of Prempeh
  • 1897: The Matabele Campaign
  • 1899: Aids to Scouting for N.-C.Os and Men
  • 1900: Sport in War
  • 1901: Notes and Instructions for the South African Constabulary
  • 1914: Quick Training for War
Scouting books
  • 1908: Scouting for Boys
  • 1909: Yarns for Boy Scouts
  • 1912: Handbook for Girl Guides (co-authored with Agnes Baden-Powell)
  • 1913: Boy Scouts Beyond The Sea: My World Tour
  • 1916: The Wolf Cub's handbook
  • 1918: Girl Guiding
  • 1919: Aids To Scoutmastership
  • 1921: What Scouts Can Do: More Yarns[48]
  • 1922: Rovering to Success
  • 1929: Scouting and Youth Movements
  • est 1929: Last Message to Scouts [49]
  • 1935: Scouting Round the World

Other books
  • 1905: Ambidexterity (co-authored with John Jackson)
  • 1915: Indian Memories
  • 1915: My Adventures as a Spy[50]
  • 1916: Young Knights of the Empire: Their Code, and Further Scout Yarns[51]
  • 1921: An Old Wolf's Favourites
  • 1927: Life's Snags and How to Meet Them
  • 1933: Lessons From the Varsity of Life
  • 1934: Adventures and Accidents
  • 1936: Adventuring to Manhood
  • 1937: African Adventures
  • 1938: Birds and beasts of Africa
  • 1939: Paddle Your Own Canoe
  • 1940: More Sketches Of Kenya
Sculpture
  • 1905 John Smith[52]

Cover of second part of Scouting for Boys, January 1908

[edit] Awards


Statue of Baden-Powell by Don Potter in front of Baden-Powell House in London

Memorial to Baden-Powell, "Chief Scout of the World", at Westminster Abbey
In 1937 Baden-Powell was appointed to the Order of Merit, one of the most exclusive awards in the British honours system, and he was also awarded 28 decorations by foreign states, including the Grand Officer of the Portuguese Order of Christ,[53] the Grand Commander of the Greek Order of the Redeemer (1920),[54] the Commander of the French Légion d'honneur (1925), the First Class of the Hungarian Order of Merit (1929), the Grand Cross of the Order of the Dannebrog of Denmark, the Grand Cross of the Order of the White Lion, the Grand Cross of the Order of the Phoenix, and the Order of Polonia Restituta.
The Silver Wolf Award worn by Robert Baden-Powell is handed down the line of his successors, with the current Chief Scout, Bear Grylls wearing this original award.
The Bronze Wolf Award, the only distinction of the World Organization of the Scout Movement, awarded by the World Scout Committee for exceptional services to world Scouting, was first awarded to Baden-Powell by a unanimous decision of the then International Committee on the day of the institution of the Bronze Wolf in Stockholm in 1935. He was also the first recipient of the Silver Buffalo Award in 1926, the highest award conferred by the Boy Scouts of America.
In 1927, at the Swedish National Jamboree he was awarded by the Österreichischer Pfadfinderbund with the "Großes Dankabzeichen des ÖPB.[55]:113
In 1931 Baden-Powell received the highest award of the First Austrian Republic (Großes Ehrenzeichen der Republik am Bande) out of the hands of President Wilhelm Miklas.[55]:101 Baden-Powell was also one of the first and few recipients of the Goldene Gemse, the highest award conferred by the Österreichischer Pfadfinderbund.[56]
In 1931, Major Frederick Russell Burnham dedicated Mount Baden-Powell[57] in California to his old Scouting friend from forty years before.[58][59] Today their friendship is honoured in perpetuity with the dedication of the adjoining peak, Mount Burnham.[60]
Baden-Powell was nominated for the Nobel Peace Prize on numerous occasions, including 10 separate nominations in 1928.[61]
As part of the Scouting 2007 Centenary, Nepal renamed Urkema Peak to Baden-Powell Peak.

[edit] Styles

The family name legally changed from Powell to Baden-Powell by Royal Licence on 30 April 1902.[29]
  • 1857-1860: Robert Stephenson Smyth Powell
  • 1860-1876: Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1876: Sub-Lieutenant Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1876-1884: Lieutenant Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1884-1892: Captain Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1892-1896: Major Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1896-25 April 1897: Major (Bvt. Lieutenant-Colonel) Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 25 April-7 May 1897: Lieutenant-Colonel Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 7 May 1897-1901: Lieutenant-Colonel (Bvt. Colonel) Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1901-1902: Major-General Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
  • 1902-1907: Major-General Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, CB
  • 1907-12 October 1909: Lieutenant-General Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, CB
  • 12 October-9 November 1909: Lieutenant-General Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, KCVO, CB
  • 9 November 1909-1912: Lieutenant-General Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, KCB, KCVO
  • 1912-1923: Lieutenant-General Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, KCB, KCVO, KStJ
  • 1923-1927: Lieutenant-General Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, Bt, GCVO, KCB, KStJ
  • 1927-1929: Lieutenant-General Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, Bt, GCMG, GCVO, KCB, KStJ
  • 1929-1937: Lieutenant-General The Right Honourable The Lord Baden-Powell, Bt, GCMG, GCVO, KCB, KStJ
  • 1937-1941: Lieutenant-General The Right Honourable The Lord Baden-Powell, Bt, OM, GCMG, GCVO, KCB, KStJ
read more...